Senin, 20 Juni 2011

Mendongkrak Motivasi Belajar Anak Kurang Beruntung

Oleh : Kisworo*)

Jam 07.00 WIB tepat bel sekolah berdering tiga kali tanda masuk untuk kegiatan belajar mengajar, bergegas penulis menuju ke ruang kelas. Dari ujung sekolah berlari salah satu murid putri dengan baju biru putih yang kumal dan lusuh berkeringat mendahului, sejenak ada bau keringat dan peluh, akibat berjalan cukup jauh. Naluri sebagai guru mencoba menyapa dengan lembut. “Rumahmu mana Sus?”. “ Dusun di atas sana Pak, dari rumah jam enam kurang seperempat! “. Jawabnya. Sambil berjalan penulis merenung dan salut dengan motivasi anak-anak. Begitulah gambaran sekilas awal kegiatan belajar di sekolah terpencil.

Permasalahan hingar bingarnya pendidikan kalau kita tercermati ternyata masih menekankan hanya pada aspek manajemen sistem pendidikan, tetapi belum menyentuh bagaimana memberdayakan subyek didik itu sendiri. Kalau toh menjadi kajian peningkatan mutu, ternyata kajian tersebut sering dibangun di atas asumsi pada anak-anak yang secara normatif tidak terlalu bermasalah dengan latar belakang sosio - kultural dan ekonomi yang mapan. Padahal masih banyak anak-anak yang kurang beruntung tidak dapat mengakses segala sistem manajemen yang banyak disodorkan oleh pemerintah. Pemahaman anak - anak kurang beruntung terhadap kualitas pendidikan merupakan sesuatu yang sangat mewah buat mereka. Permasalahan ini patut diangkat karena jangan sampai kasus bunuh diri pada anak karena beban hidup yang terlalu berat akan terjadi lagi. Akar permasalahan yang sering terjadi adalah karena kemiskinan yang melekat pada dirinya. Fenomena ini menurut psikolog Koenjoro (2005) sesungguhnya lebih merupakan bentuk protes anak untuk mendapatkan eksistensi diri, memiliki makna diri, dan upaya mencari perhatian dari orang lain.

Pendekatan Pendidikan Anak Kurang Beruntung
Yang dimaksud anak kurang beruntung ( disavanceg children ) dalam tulisan ini yaitu anak yang secara sosial, ekonomi maupun letak geografisnya kurang mendukung untuk belajar secara optimal. Banyak faktor yang mempengaruhi ketidakmampuan belajar optimal anak-anak ini dikarenakan lebih ke faktor eksternal yang sangat mempengaruhi kondisi fisik maupun perkembangan mental dalam belajar. Pengalaman dari pengamatan penulis yang berkecimpung dan berbaur dengan mereka ternyata sebagian waktunya lebih banyak tersita dengan kegiatan untuk survival (bertahan hidup) menghadapi kondisi lingkungan dan kondisi ekonomi. Hampir separuh waktu lebih jam efektif yang seharusnya untuk belajar tersita untuk mendapatkan air bersih bagi anak yang berdomisili di daerah kering seperti di Gunungkidul. Untuk membantu menopang kehidupan ekonomi keluarga banyak pula yang menghabiskan waktunya mencari pakan ternak dan kayu bakar di hutan.

Aspek sosial yang lain adalah kurangnya perhatian dan motivasi dari orang tua, karena sebagian besar dari mereka banyak yang terpaksa meninggalkannya pada sanak saudara kemudian merantau atau menjadi tenaga kerja di luar negeri untuk menopang kebutuhan ekonominya. Padahal menurut penelitian Fuad Nashori ahli psikologi anak (2005) anak-anak yang berprestasi antara lain karena orang tuanya ikut mendampingi mereka ketika belajar. Kondisi tersebut jelas tidak menguntungkan bagi anak anak yang ada di daerah terpencil untuk belajar optimal. Karakteristik anak-anak tersebut biasanya tersebar dan terdapat di daerah-daerah pinggiran kota.

Perjalanan yang cukup jauh untuk menempuh bangku sekolah juga menjadi kendala tersendiri bagi kemampuan staminanya untuk mendukung daya tangkap menerima pelajaran di kelas. Apalagi selama kurang lebih satu jam dengan berjalan kaki. Hukum kesiapan Thorndike (1979) dalam teori belajar menyebutkan bahwa jika suatu unit konduksi yang tidak siap berkonduksi dipaksakan untuk berkonduksi, maka konduksi itu akan menimbulkan ketidakpuasan. Ketidakpuasan bisa menjelma menjadi kelelahan mental dan fisik siswa akibat faktor eksternal di atas menyebabkan kehilangan minat dan motivasi sehingga menyebabkan terjadinya penyimpangan perilaku di kelas.

Melihat fenomena di atas ada beberapa hal yang patut dicermati dalam pendekatan bagi anak-anak kurang beruntung. Pendekatan belajar harus lebih fokus pada pengalaman diri siswa, guru harus mampu menyelami kebutuhan anak sebenarnya. Pembelajarannya pun harus dibangun di atas asumsi tematik dekat dengan permasalahan anak sehari-hari. Ada ilustrasi yang menarik dari penulis bahwa pola pendekatan guru di daerah terpencil dengan pola guru di daerah perkotaan sangat jauh berbeda. Dimana guru-guru di perkotaan menekankan bagaimana menggenjot prestasi akademik setinggi-tungginya, tetapi guru guru di daerah terpencil lebih banyak membidik bagaimana supaya anak-anaknya bisa senang, tertawa dan merasa betah berada di sekolah, tanpa mengurangi hak mereka memperoleh jatah kurikulum yang sudah menjadi menjadi acuan nasional.

Pendekatan yang lainnya adalah dengan menumbuhkan rangsangan untuk menjadikan dahaga intelektual bagi anak. Perlu dicermati pernyataan Said Tuhuleley (2004) bahwa kedahagaan intelektual akan menumbuhkan minat belajar, kedahagaan intelektual membuat seseorang seperti berada di tengah gurun pasir yang kering, dan karena itu keinginannya untuk memperoleh seteguk air membuatnya menjadi kuat untuk mencari oase. Guru dalam hal ini mempunyai peran yang yang dominan sekali untuk menumbuhkan kedahagaan intelektual bagi anak-anak yang ada di wilayah terpencil. Ketika murid melihat gurunya mengajar dengan enak, penyayang, humoris dan mempunyai pengetahuan yang luas, maka ia akan bertanya “ kok bisa ya pak guru sepandai itu?” Maka manakala guru memberi jawaban yang menyentuh ranah bawah sadar anak bahwa semuanya adalah melalui proses belajar, maka akan tumbuh minat dan motivasi siswa untuk melupakan kekurang beruntungan yang melekat dalam dirinya dan berganti menjadi motivasi untuk menumbuhkan kesadaran untuk berubah. 

Di kelas guru harus mampu menciptakan retensi/perhatian agar dapat menghentikan keterlibatan anak terhadap rangsangan lainnya. Teori kognitif menyatakan bahwa rangsangan dalam register penginderaan harus dapat mempunyai kesan yang dalam agar masuk kepada memeori jangka panjang siswa. Ekstremnya guru mungkin harus bekerja keras bagaimana siswa melupakan rasa laparnya di kelas, melupakan himpitan beban di rumahnya. Bahkan ada anekdot perhatian siswa lebih fokus, sampai ada lalat yang hinggappun tidak terasakan. Susah bukan ! Hendaknya mereka diberi perhatian khusus untuk mengkompensasi kelemahannya yang melekat dalam dirinya dan lingkungannya, karena jika mereka diperlakukan hanya berdasarkan persamaan kesempatan saja, maka mereka akan selalu tersisih oleh anak-anak yang berasal dari keluarga sosial ekonomi yang cukup, atau tinggal di kota. Jika tidak ada perhatian dari pemerintah maka prinsip persamaan dan keadilan mutu dalam pendidikan di Yogyakarta akan selalu mengalami disparsitas dan kesenjangan mutu.

Dalam upaya mengurangi kesenjangan itulah, maka perlu ada keadilan sebagai dimensi lain dari pemerataan mutu. Keadilan berarti memberikan perlakuan yang adil dan wajar kepada peserta didik yang mempunyai label kurang beruntung dengan cara mengubah orientasi kebijakan lebih bersahabat dengan sekolah-sekolah yang ada di wilayah terpencil. Guna membantu pemerataan kualitas mutu pendidikan di Yogyakarta dahulu melalui Dana Proyek Peningkatan Mutu-SLTP mempunyai sekolah yang menjadi sasaran pembinaan, yang sering dikenal dengan sekolah target. Indikator sekolah target mempunyai ciri-ciri antara lain adalah terpencil, miskin dan diharapkan lebih mampu untuk berkembang. Sayangnya program tersebut mulai tahun 2004 sudah tidak ada lagi. Padahal dalam banyak hal dari kajian empiris dan monitoring evaluasi , program ini sangat mendukung sekolah-sekolah yang mempunyai basis kantong-kantong anak-anak yang kurang beruntung. Sasaran tembak yang dibenahi bukan hanya bantuan sarana dan prasarana sekolah saja tetapi sudah menyentuh aspek guru di dalamnya. 

Untuk menambah suplai energi siswa juga pernah digalakkan program makanan tambahan melalui kerjasama dengan bantuan luar negeri yaitu proyek makanan tambahan bagi siswa- siswa di sekolah dasar. Ini cukup menggembirakan terutama bagi anak-anak yang ada di daerah pelosok. Dengan makanan tambahan ini diharapkan anak mempunyai gizi dan stamina yang prima dalam menerima pelajaran di kelas. Karena dengan keterbatasan di rumah biasanya banyak anak-anak yang tidak sarapan dari rumah. Bukannya karena malas, tetapi lebih banyak karena memang tidak ada yang dimakan.

Program retrivel atau program menarik kembali siswa putus sekolah juga patut mendapat apresiasi. Di Gunungkidul sendiri menurut Dinas Pendidikan kab.Gunungkidul pemerintah daerah telah dapat menjaring sekitar 1.628 anak SMP untuk direkomendasikan. Dengan dana dekonsentrasi masing-masing anak sebesar 1 juta rupiah dapat mengurangi beban biaya anak-anak yang ada di daerah terpencil sebab putusnya angka drop out yang tinggi memang lebih disebabkan karena faktor ekonomi.

Sedikit dari mereka yang punya orientasi untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, tetapi lebih banyak memilih bekerja. Sehingga tidak kalah pentingnya adalah menciptakan relevansi pendidikan dengan dunia kerja. Pemerintah harus mampu menciptakan lapangan kerja lokal, pendidikan tanpa pertumbuhan lapangan kerja yang memadai hanya akan memberikan amunisi pada kapitalisme berupa buruh murah di dalam negeri, maupun sebagai buruh migran. Ini belum dihitung turunnya angka partisipasi sekolah karena orang tua tak mampu membayar biaya pendidikan yang mahal akibat privatisasi. Yang dibenahi hendaknya jangan sampai pemberdayaan sistemnya saja, selama belum menyentuh aspek pemberdayaan subyek didik maka peluang anak-anak kurang beruntung untuk merebut mobilisasi vertikal dengan sesamanya di kota akan terus termarginalkan. Memang kita harus tahu teori sosial tetapi lebih penting lagi adalah tahu realita sosial. Salam untuk guru-guru di daerah terpencil !

*) Kepala SMP 4 Semin

4 komentar:

BLOGG SEORANG GURU mengatakan...

jangan lupa mas guru,kebutuhan gizi dan kesehatan tubuh sesungguhnya bisa terlampaui oleh semangat yang membaja dan keyakinan hidup dan tujuan yang tergambar dengan jelas. raden mas sosro kartono,sarjana asia pertama di eropa tidak pernah makan cukup gizi tapi intelektualitasnya diakui dimana-mana.juga Ischiro Honda adalah orang jepang yang kekurangan.Thomas alva edison siswa yang terpinggirkan
teori psikologinya apa yang cocok?bahkan muhamad s.a.w jauh dari materialisme seperti itu toh tetap cerah.jadi,kenapa tidak menggali local wisdom saja bahwa "madhang ora madhang tetep padhang" asal hati bersih dan laku utama insaallah semua jiwa muda akan tercerdaskan!!!!

kisworo mengatakan...

makasih buya...
tetapi kalau sudah masuk komunitas, pendekatannya kuantitatif atau kualitatif pilihannya ! seberapa banyak sih orang-orang hebat seperti itu jika dibandingkan anak-anak kurang beruntung ? itulah maknanya kajian empiris untuk suatu policy bukan dongeng motivasi

udhar mengatakan...

Tantangan untuk pengabdian yang lebih baik Pak Kis, dengan pengharapan pahala dan hidayah-Nya juga lebih banyak. Amien.

Anonim mengatakan...

Kisworo mengatakan...
Mksh motivasinya p Sugeng Subagya maaf br nemu blognya...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Favorit

Komentar

Chat Silaturahmi